Sutroh-Pembatas Dalam Sholat

sutrah-612x318Shobahul Khoir . Sebagai seorang muslim kita mempunyai kewajiban sholat 5 waktu di tambah lagi sholat2 sunnah lainya. Dalam sholat kita membutuhkan yg namanya sutroh. apa sih sutroh dan apa sih hukumnya ?? yuk kita simak yang satu ini .

Pengertian Sutrah

Sutrah secara bahasa berasal dari kata satara-yasturu yang artinya menutupi, menyembunyikan. Adapun secara istilah adalah sesuatu yang dijadikan oleh seorang yang shalat di depannya sebagai pembatas antaranya dengan orang yang lewat di depannya. agar pandangannya tidak melampaui sesuatu yg ada dibelakang sutroh (al-Mausuah al-Fiqhiyyah al-Kuwaitiyyah, 24/177). Pengertian ini masih umum, karena nanti para ulama berbeda pendapat terkait apakah garis atau batas sajadah sudah bisa digolongkan sutrah atau belum.

Masyru’iyah

Terkait dalil disyariatkannya sutrah, kita bisa temukan beberapa hadits, diantaranya:

عَنِ ابْنِ عُمَرَقَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: لاَ تُصَلِّ إِلاَّ إِلىَ سُتْرَةٍ وَلاَ تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبىَ فَلْتُقَاتِلْهُ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِيْنَ

Dari Ibnu Umar berkata: Rasulullah bersabda, “Janganlah engkau shalat kecuali menghadap sutrah dan janganlah engkau biarkan seorangpun lewat di depanmu. Apabila dia enggan, maka perangilah karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan).”(H.R: Muslim)

Hadits lain menyebutkan:

 عَنْ أَبِيْ سَعِيْدٍ الْخُدْرِيِّ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ: إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيُصَلِّ إِلىَ سُتْرَةٍ وَلْيَدْنُ مِنْهَا وَلاَ يَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَهُ وَبَيْنَهَا فَإِنْ جَاءَ أَحَدٌ يَمُرُّ فَلْيُقَاتِلْهُ فَإِنَّهُ شَيْطَانٌ

Dari Abu Said Al-Khudri berkata: Rasulullah bersabda, “Apabila salah seorang di antara kalian melakukan shalat, maka hendaknya dia bersutrah dan mendekat kepadanya. Dan janganlah dia membiarkan seorangpun lewat di depannya, apabila dia enggan maka perangilah karena dia adalah setan.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah)

Hukum Sutrah

Semua ulama sepakat bahwa sutrah bagi orang shalat itu memang disyariatkan. Tetapi ketika berbicara hukumnya, ada sedikit perbedaan, yaitu antara yang mewajibkan dan mengatakan sunnah.

Bisa dikatakan ulama dari zaman salaf hampir tidak ada yang mengatakan bahwa hukum sutrah bagi orang shalat adalah wajib.

  1. Pendapat Yang Mewajibkan
  2. As-Syaukani (w. 1250 H)
  3. Al-Albani (w. 1420 H)
  4. Pendapat Yang Menyunnahkan

Pendapat sunnah ini bisa kita temukan dari ulama-ulama madzhab di kitab fiqih klasik, baik mazhab Al-Hanafiyah, Al-Malikiyah, Asy-syafi’iyah maupun Al-Hanabilah.

  1. Mazhab Al-Hanafyah
  2. Mazhab Asy-Syafi’iyah
  3. Mazhab Al-Hanabilah

Pendapat Madzhab Hanbali kita bisa gali dalam kitab Ibnu Quddamah al al-Mughni, Fathu al-Bari, hal. 3/ 398.

  1. Ulama Modern
    Abdullah bin Baaz (w. 1420 H) berkata:

الصلاة إلى سترة سنة مؤكدة وليست واجبة

“Shalat menghadap sutrah adalah sunnah muakkadah (yang sangat ditekankan), dan bukan kewajiban” (Abdullah bin Baaz, Tuhfatul-Ikhwaan bi-Ajwibati Tata’allaqa bi-Arkaanil-Islaam, 81)

Muhammad bin Shalih al-Utsaimin (w. 1421 H) berkata:

السترة في الصلاة سنة مؤكدة إلا للمأموم فإن المأموم لا يُسن له اتخاذ سترة اكتفاءً بسترة الإمام

“Sutrah dalam shalat hukumnya sunnah muakkadah, kecuali bagi makmun. Karena makmum tidak disunnahkan memakai sutrah, dimana mereka telah dicukupkan dengan sutrahnya imam” (Muhammad bin Shalih al-Utsaimin, Fataawaa Arkaanil-Islaam, 343 soal no. 267)

Ukuran dan sifat dari sutroh :

1622663_547595175356758_997317118_n

  • Para ulama Hanafi dan Maliki berpendapat apabila seorang melaksanakan shalat di padang pasir atau tempat-tempat yang dikhawatirkan ada orang yang melintas dihadapannya maka dianjurkan baginya untuk meletakkan sutroh dengan panjang satu hasta atau lebih. Para ulama Hanafi mengatakan bahwa hitungan satu hasta atau kurang maka terdapat perselisihan. Yang dimaksud dengan satu hasta di sini adalah hasta tangan satuan ukuran sepanjang lengan bawah ¼ depa (dr siku sampai ke ujung jari tengah) yaitu dua. jeng·kal n ukuran sepanjang rentangan antara ujung ibu jari tangan dan ujung kelingking;
  • Sedangkan para ulama Syafi’i mengatakan bahwa panjang sutroh adalah sekitar dua pertiga hasta atau lebih.
  • Sementara itu para ulama Hambali mengatakan apabila seseorang shalat di tempat terbuka dengan sutroh yang tingginya paling tidak sekitar satu hasta.

Adapun ukuran ketebalannya maka

  • Para ulama Syafi’i dan Hambali tidaklah membatasinya. Bisa saja dia tebal seperti dinding dan onta atau tipis seperti anak panah karena Rasulullah saw melaksanakan shalat dengan sutrohnya yaitu tombak dan unta.
  • Sedangkan para ulama Hanafi menegaskan didalam banyak matannya bahwa sutroh tebalnya atas seperti ketebalan jari jemari. Ini adalah ukuran minimalnya karena apabila kurang dari itu maka sutroh tidaklah bisa terlihat sehingga tujuan dari sutroh itu tidaklah kesampaian. Namun Ibnu Abidin berkata,”Didalam kitab “al Bada’i” penjelasan ketebalan sutroh adalah pendapat yang lemah..”
  • Para ulama Maliki mengatakan bahwa ketebalan sutroh adalah paling tidak seperti ketebalan lembing dan tidak cukup sutroh apabila kurang dari ukuran itu. Dinukil dari Ibnu Habib bahwa dia mengatakan,”Tidak mengapa sutroh kurang dari tinggi tongkat dan tidak setebal lembing.’ (al Mausu’ah al Fiqhiyah juz II hal 8486 – 8490)

Jarak Antara dirinya dengan sutroh

Dari Sahl bin Sa’ad As Sa’idi radhiallahu’anhu, beliau berkata:

كان بين مُصلَّى رسولِ اللهِ صلَّى اللهُ عليهِ وسلَّمَ وبين الجدارِ ممرُّ الشاةِ

Biasanya antara tempat shalat Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam dengan dinding ada jarak yang cukup untuk domba lewat” (HR. Al Bukhari 496).

Imam An-Nawawi dari Madzhab Syafi’i (w. 676 H) berkata:

يُستحبُ للمُصلي أن يكون بين يديه سترة من جداراً أو سارية أو غيرها ويدنو منها بحيث لا يزيدُ بينهما على ثلاثة أذرع

“Disunnahkan bagi orang yang shalat agar meletakkan sutrah di depannya, yang berupa tembok, tiang, atau yang lainnya dan mendekat kepadanya dengan jarak (antara dirinya dengan sutrah) tidak lebih dari tiga hasta” (an-Nawawi, Raudhatu at-Thalibin, 1/ 398)

  1. Ad Dawudi menyatakan bahwa sejarak domba lewat itu jarak minimal sedangkan tiga hasta adalah jarak maksimal (Nailul Authar, 3/7). Inipun dihitung dari tempat sujud.
  2. Sebagian ulama mengkompromikan bahwa sejarak domba lewat itu dihitung dalam keadaan sujud dan rukuk, sedangkan tiga hasta itu dihitung dalam keadaan berdiri (Nailul Authar, 3/7).
  3. Ibnu Shalah berkata: “para ulama menyatakan bahwa kadar jarak domba lewat itu adalah tiga hasta” (Nailul Authar, 3/7). Sehingga sebagian ulama berpendapat bahwa jarak sutrah itu tiga hasta, ini pendapat Asy Syafi’i, Atha dan lainnya.

Kehilangan Sutrah Di Tengah Shalat

  1. Bergerak atau berjalan mencari sutrah lain jika tidak menyibukkan.

“Ini merupakan pendapat Imam Malik dan beberapa ulama yang lain. Dan telah aku jelaskan hal ini dalam kitab Al Qaulul Mubin Fii Akhta’i Al Mushallin. Adapun dalilnya adalah dalil-dalil umum. Semisal sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

إذا صلَّى أحدُكم فلْيُصلِّ إلى سُترةٍ ولْيدنُ منها

Jika seseorang mengerjakan shalat maka shalatlah dengan menghadap sutrah dan mendekatlah padanya

  1. Tidak perlu melakukan apa-apa. Syaikh Muhammad bin Shalih Al Utsaimin menjelaskan:
    “Ketika imam salam, makmum menjadi munfarid. Maka dalam keadaan ini ‘sutrah imam adalah sutrah bagi makmum‘ tidak berlaku, karena si imam saat ini bukan lagi imam, ia sudah berpindah dari posisinya sebagai imam. Namun setelah itu jika makmum kembali berdiri meneruskan shalat, apakah disyari’atkan bagi makmum untuk mencari sutrah?Yang menurutku lebih tepat, tidak disyariatkan untuk mencari sutrah. Karena para sahabat Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam ketika mereka masbuk dan hendak menyelesaikan sisa shalatnya, mereka tidak mencari sutrah. Lalu jika kita katakan bahwa sebaiknya mencari sutrah, atau bahkan wajib bagi yang berpendapat wajibnya sutrah, maka pada umumnya diperlukan melangkah dan gerakan yang tentunya tidak bisa kita bolehkan kecuali dengan dalil yang tegas.

Maka yang nampaknya lebih tepat, kita katakan kepada makmum bahwa sutrah anda sudah berakhir dengan berakhirnya imam dan anda tidak perlu mencari sutrah. Karena tidak ada dalil mengenai mencari sutrah di tengah-tengah shalat. Yang ada dalilnya adalah mencari sutrah sebelum mulai shalat.” (Liqa Babil Maftuh, kaset no. 155, fatwa no. 16, Asy Syamilah)

Bagaimana jika ada yg melewati sutroh

sutrah-imam-boleh-lewat-depan-makmum-islamic-zone22Juga sabda Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam:

لَا تُصَلِّ إِلَّا إِلَى سُتْرَةٍ، وَلَا تَدَعْ أَحَدًا يَمُرُّ بَيْنَ يَدَيْكَ، فَإِنْ أَبَى فَلْتُقَاتِلْهُ؛ فَإِنَّ مَعَهُ الْقَرِينَ

Janganlah shalat kecuali menghadap sutrah, dan jangan biarkan seseorang lewat di depanmu, jika ia enggan dilarang maka tolaklah ia dengan keras, karena sesungguhnya bersamanya ada qarin (setan)” (HR. Ibnu Khuzaimah 800, 820, 841. Al Albani dalam Sifatu Shalatin Nabi (115) mengatakan bahwa sanadnya jayyid, ashl hadist ini terdapat dalam Shahih Muslim).

Apakah Shalat Menjadi Batal Dengan Adanya Sesuatu Yang Lewat?

shalat_sutrahShalat bisa menjadi batal jika ia dilewati oleh wanita, atau keledai, atau anjing. Adapun jika yang lewat adalah selain tiga hal ini, maka tidak batal. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda:

يَقْطَعُ الصَّلَاةَ، الْمَرْأَةُ، وَالْحِمَارُ، وَالْكَلْبُ، وَيَقِي ذَلِكَ مِثْلُ مُؤْخِرَةِ الرَّحْلِ

Lewatnya wanita, keledai dan anjing membatalkan shalat. Itu dapat dicegah dengan menghadap pada benda yang setinggi mu’khiratur rahl” (HR. Muslim 511)

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s